![]() |
| Foto : Eduardus Harjo bersama Keluarga besar dan Tokoh adat menggelar upacara adat di Rumah Gendang Kampung Lewat Jumat, 19/6/2026 (AR) |
Corong Demokrasi – Keluarga besar Eduardus Harjo, Tokoh adat dan masyarakat Desa Lewat menggelar upacara Teing Hang di rumah adat (Gendang) Kampung Lewat. Jumat, 19/6/2026 malam.
Ritual adat ini menandai kesiapan Eduardus Harjo untuk mendaftarkan diri sebagai Calon Kepala Desa (Cakades) Lewat, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi bakar lilin di Compang Lewat yang dipimpin oleh Tokoh Adat (Tua Gendang). Seluruh warga yang hadir tampak mengenakan pakaian adat khas Manggarai berupa baju putih, kain songke, dan topi songke.
Ritual adat ini tidak hanya dihadiri keluarga besar masyarakat Kampung Lewat, tetapi juga sejumlah tokoh penting, seperti Anak Rona, Anak Wina, tokoh adat dari wilayah sekitar, tokoh agama, para orang tua, serta barisan pendukung dari Kampung Mataroang, Pateng, Kolong, dan Rusing.
Ritual tersebut ditandai dengan lantunan doa adat melalui upacara Teing Hang yang dipimpin oleh Tua Gendang Kampung Lewat. Dalam tradisi Manggarai, Teing Hang merupakan ritual penyajian makanan kepada leluhur sebagai bentuk ungkapan syukur, permohonan berkat, perlindungan, dan restu kepada Sang Pencipta atas niat, usaha, dan perjuangan untuk mencapai cita-cita bersama.
Selain ritual adat, sejumlah perwakilan tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, kalangan muda, serta Eduardus Harjo sebagai bakal calon kepala desa juga diberikan kesempatan menyampaikan sambutan.
Mewakili tokoh adat, Fransiskus Seda mengatakan bahwa pencalonan Eduardus Harjo bukan sekadar kontestasi politik desa, melainkan bagian dari perjuangan bersama untuk mewujudkan masa depan Desa Lewat yang lebih baik.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga suasana Pilkades yang sejuk dan damai. Menurutnya, pemilihan kepala desa bukan ajang untuk saling memusuhi, melainkan momentum untuk mempererat persaudaraan.
“Pilkades ini bukan ajang untuk saling memusuhi. Bahkan ketika orang lain memusuhi kita, kita balas dengan mencintai dan mengasihi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat tentu telah memiliki gambaran mengenai figur yang tepat untuk membawa Desa Lewat menuju masa depan yang lebih baik.
“Harapan itu kita titipkan pada pundak anak kita, Eduardus Harjo,” tambahnya.
Sementara itu, mewakili barisan pendukung, Darius Tali mengingatkan seluruh pendukung agar menghindari praktik politik yang tidak sehat. Menurutnya, politik adalah keberanian untuk mengatakan “tidak” dan keberanian untuk mengatakan “ya” pada hal yang benar.
Ia menjelaskan bahwa dalam menentukan seorang pemimpin desa, masyarakat perlu melihat rekam jejak dan perilaku calon dalam kehidupan sehari-hari. Penilaian itu, kata dia, dirangkum dalam konsep politik 3D, yakni Dia Tombo, Dia Pande, Dia Wintuk.
Darius juga menyoroti tantangan pembangunan desa di tengah perubahan kebijakan pemerintah pusat terkait anggaran dana desa. Karena itu, ia berharap siapa pun yang terpilih menjadi Kepala Desa Lewat nantinya mampu mengambil keputusan yang tepat dan mencari solusi agar pembangunan tetap berjalan meski dengan keterbatasan anggaran.
Menurutnya, seorang kepala desa memiliki peluang untuk menjaga stabilitas keuangan desa melalui pemanfaatan berbagai sumber anggaran yang dapat diperjuangkan melalui Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPD) kepada pemerintah daerah.
“Harapan itu saya titipkan kepada adik Eduardus. Memang tidak mudah, tetapi dengan keberanian, kerja keras, serta kemampuan menggali dan mengembangkan potensi desa yang ada, hal itu bisa dicapai,” tuturnya.
Mewakili tokoh muda Desa Lewat, Lorens Endi menyampaikan bahwa dukungan terhadap Eduardus Harjo didasarkan pada penilaian terhadap karakter dan kepribadiannya.
Menurut Lorens, Eduardus merupakan sosok yang berani, transparan, dan memiliki potensi untuk membangun kemandirian desa. Ia juga dinilai sederhana, mampu merangkul seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, serta mampu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat dengan pendekatan yang sederhana.
Lorens mengajak kalangan muda untuk bijak dalam menentukan pilihan. Menurutnya, memilih pemimpin tidak boleh hanya berdasarkan ikut-ikutan, tetapi harus berdasarkan hati nurani dan pertimbangan yang matang.
“Pilihlah pemimpin yang memiliki karakter, bukan hanya pintar berbicara, tetapi juga selalu hadir di tengah masyarakat untuk membantu menyelesaikan persoalan yang ada,” ujarnya.
Sementara itu, Eduardus Harjo dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan dukungan masyarakat dalam ritual adat tersebut.
Menurutnya, selain karena dukungan masyarakat yang mengusung dirinya sebagai bakal calon kepala desa, pergantian kepemimpinan juga merupakan bagian dari amanat konstitusi yang berlangsung secara berkala.
“Tentu dalam memilih seorang pemimpin banyak aspek yang perlu dilihat, baik dari segi moral, pendidikan, maupun pengalaman. Yang paling penting, pemimpin adalah sosok yang mampu mendengar, memperjuangkan, dan mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat akar rumput,” katanya.
Lebih lanjut, ia berharap seluruh tokoh adat, tokoh masyarakat, serta barisan pendukung tetap menjaga kekompakan, konsistensi, dan soliditas hingga tahapan Pilkades pada September mendatang maupun di masa-masa berikutnya. **
(AR)



