![]() |
| Foto : Vickidolin Polin Karpus dan Vinsensia Putri Baru (Calon Presma dan Wapresma BEM Unika Santu Paulus Ruteng) |
Corong Demokrasi — Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa BEM Unika Santu Paulus Ruteng akan segera dilaksanakan.
Hal tersebut ditandai dengan selesainya tahapan pengundian nomor urut bakal calon Pada Rabu (27/9/2026).
Pada pengundian nomor urut, Nama Vickidolin Polin Karpus dan Vinsensia Putri mengantongi nomor urut 2.
Pasangan calon nomor urut 2 mengusung tagline “Berpikir Kritis, Bertindak Humanis.”
Mengenal Vickidolin dan Vinsensia
Vickidolin Polin Karpus merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Teologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Santu Paulus Ruteng.
Ia sebelumnya dikenal melalui berbagai aktivitas organisasi, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.
Vickidolin merupakan mahasiswa Program Studi Teologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng.
Pengalaman organisasinya cukup dikenal. Di lingkungan organisasi internal kampus, ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Teologi dan terlibat dalam Komunitas Synergoi serta sejumlah kegiatan Putra Putri Kampus.
Di luar kampus, Vickidolin bergabung dengan Persatuan Mahasiswa Ndoso, Manggarai Barat. Ia juga tercatat sebagai anggota aktif Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manggarai.
Sementara itu, Vinsensia Putri Baru merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng.
Vinsensia juga memiliki pengalaman dalam organisasi kemahasiswaan. Di lingkungan internal kampus, ia pernah menjadi pengurus HMPS PGSD sebagai Ketua Divisi Komunikasi dan Informasi.
Di luar kampus, Vinsensia aktif dalam berbagai kegiatan kerohanian, termasuk membina anak-anak serta terlibat dalam aktivitas Orang Muda Katolik (OMK).
Pengalaman organisasi tersebut menjadi salah satu bekal yang dibawa keduanya dalam kontestasi pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa BEM Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng.
Alasan Memilih Vinsensia sebagai Wakil
Dalam wawancara pada Kamis malam, Vickidolin mengatakan pencalonannya bersama Vinsensia merupakan hasil konsolidasi yang telah dipersiapkan bersama tim dan sejumlah pihak yang mendukung langkah mereka.
Ia menegaskan bahwa keputusan memilih Vinsensia sebagai calon wakil bukan keputusan yang diambil secara spontan.
Menurut Vickidolin, keterlibatan perempuan dalam posisi kepemimpinan organisasi mahasiswa merupakan bagian penting dalam membangun kepemimpinan yang inklusif.
Ia menyebut sejumlah alasan yang mendasari pilihannya tersebut, antara lain pengalaman perempuan yang dinilainya dapat memperkaya proses pemecahan masalah dan inovasi, mendorong kebijakan yang lebih inklusif, serta memperkuat aspek empati dan kolaborasi dalam kepemimpinan.
Selain itu, menurut Vickidolin, keterlibatan perempuan dalam posisi strategis juga dapat mendukung kesetaraan dan membantu menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari diskriminasi.
Makna “Berpikir Kritis, Bertindak Humanis
Vickidolin menjelaskan bahwa tagline “Berpikir Kritis, Bertindak Humanis”berangkat dari dua prinsip yang menurutnya tidak dapat dipisahkan dalam membentuk karakter mahasiswa sekaligus pemimpin organisasi.
Menurut dia, kemampuan intelektual perlu berjalan seiring dengan sikap yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan martabat sesama.
“Berpikir kritis berarti mahasiswa memiliki keberanian untuk membaca dan menganalisis persoalan secara tajam,” ujar Vickidolin.
Sementara itu, bertindak humanis, lanjut dia, berarti setiap langkah dan keputusan harus tetap menempatkan manusia, martabat, serta kesejahteraan bersama sebagai pertimbangan utama.
Prinsip tersebut, kata Vickidolin, juga diarahkan untuk menciptakan kehidupan organisasi yang inklusif. Ia menegaskan bahwa pelayanan dan keberpihakan BEM tidak boleh dibatasi oleh perbedaan suku, agama, ras, maupun status sosial.
Visi dan Misi
Dalam pencalonannya, Vickidolin dan Vinsensia mengusung visi:
“Mewujudkan kehidupan kemahasiswaan yang kritis, humanis, demokratis, inklusif, dan berdaya melalui BEM yang aspiratif, transparan, kolaboratif, serta berpihak pada kepentingan mahasiswa.”
Untuk mewujudkan visi tersebut, pasangan ini menawarkan delapan agenda utama.
Pertama,membangun budaya berpikir kritis dengan mendorong mahasiswa membaca persoalan secara objektif, menguji kebijakan, menyampaikan pendapat berdasarkan argumentasi, serta menawarkan solusi yang berangkat dari data dan realitas sosial.
Kedua, menghadirkan gerakan mahasiswa yang humanis melalui penguatan kepedulian, solidaritas, empati, dan keberpihakan kepada mahasiswa yang menghadapi persoalan akademik maupun sosial.
Ketiga, memperkuat fungsi advokasi mahasiswa dengan menjadikan BEM sebagai ruang pengaduan, pendampingan, sekaligus wadah perjuangan aspirasi mahasiswa secara terbuka, konstruktif, dan bertanggung jawab.
Keempat, membangun tata kelola BEM yang transparan dan demokratis, terutama dalam proses pengambilan keputusan, pelaksanaan program, pengelolaan anggaran, hingga penyampaian pertanggungjawaban kepada mahasiswa.
Kelima, memperluas kolaborasi dan pemberdayaan mahasiswa dengan membangun kerja sama antara BEM, organisasi mahasiswa, unit kegiatan mahasiswa (UKM), program studi, pimpinan universitas, alumni, serta masyarakat.
Keenam, mengembangkan ruang intelektual dan kreativitas mahasiswa melalui forum diskusi, kajian, pelatihan, kompetisi, dan berbagai wadah kreativitas yang dapat meningkatkan produktivitas, inovasi, serta karakter mahasiswa.
Ketujuh, meningkatkan kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan dengan mendorong keterlibatan mahasiswa dalam isu kemanusiaan, kebudayaan, kemasyarakatan, dan lingkungan sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Kedelapan, membentuk mahasiswa sebagai agen perubahan yang tidak hanya menjadi penerima kebijakan kampus, tetapi mampu mengambil peran sebagai subjek yang berpikir, menyampaikan gagasan, bergerak, dan menciptakan perubahan positif.
Vickidolin menutup keterangannya dengan mengajak seluruh mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng agar menggunakan momentum pemilihan BEM dengan bijak dan memilih calon yang tepat.
Kata dia, pesta demokrasi mahasiswa tidak semata-mata tentang menentukan siapa yang akan memimpin, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memilih arah gerakan dan masa depan kehidupan kemahasiswaan di kampus.
"Saya berharap teman-teman mahasiswa untuk tidak sekadar memilih pemimpin, Pilihlah pemimpin dengan melihat rekam jejak, gagasan, visi, serta komitmen membesarkan organisasi,'' tutupnya.
Ia menyebut sejumlah alasan yang mendasari pilihannya tersebut, antara lain pengalaman perempuan yang dinilainya dapat memperkaya proses pemecahan masalah dan inovasi, mendorong kebijakan yang lebih inklusif, serta memperkuat aspek empati dan kolaborasi dalam kepemimpinan.
Selain itu, menurut Vickidolin, keterlibatan perempuan dalam posisi strategis juga dapat mendukung kesetaraan dan membantu menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari diskriminasi.
Makna “Berpikir Kritis, Bertindak Humanis
Vickidolin menjelaskan bahwa tagline “Berpikir Kritis, Bertindak Humanis”berangkat dari dua prinsip yang menurutnya tidak dapat dipisahkan dalam membentuk karakter mahasiswa sekaligus pemimpin organisasi.
Menurut dia, kemampuan intelektual perlu berjalan seiring dengan sikap yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan martabat sesama.
“Berpikir kritis berarti mahasiswa memiliki keberanian untuk membaca dan menganalisis persoalan secara tajam,” ujar Vickidolin.
Sementara itu, bertindak humanis, lanjut dia, berarti setiap langkah dan keputusan harus tetap menempatkan manusia, martabat, serta kesejahteraan bersama sebagai pertimbangan utama.
Prinsip tersebut, kata Vickidolin, juga diarahkan untuk menciptakan kehidupan organisasi yang inklusif. Ia menegaskan bahwa pelayanan dan keberpihakan BEM tidak boleh dibatasi oleh perbedaan suku, agama, ras, maupun status sosial.
Visi dan Misi
Dalam pencalonannya, Vickidolin dan Vinsensia mengusung visi:
“Mewujudkan kehidupan kemahasiswaan yang kritis, humanis, demokratis, inklusif, dan berdaya melalui BEM yang aspiratif, transparan, kolaboratif, serta berpihak pada kepentingan mahasiswa.”
Untuk mewujudkan visi tersebut, pasangan ini menawarkan delapan agenda utama.
Pertama,membangun budaya berpikir kritis dengan mendorong mahasiswa membaca persoalan secara objektif, menguji kebijakan, menyampaikan pendapat berdasarkan argumentasi, serta menawarkan solusi yang berangkat dari data dan realitas sosial.
Kedua, menghadirkan gerakan mahasiswa yang humanis melalui penguatan kepedulian, solidaritas, empati, dan keberpihakan kepada mahasiswa yang menghadapi persoalan akademik maupun sosial.
Ketiga, memperkuat fungsi advokasi mahasiswa dengan menjadikan BEM sebagai ruang pengaduan, pendampingan, sekaligus wadah perjuangan aspirasi mahasiswa secara terbuka, konstruktif, dan bertanggung jawab.
Keempat, membangun tata kelola BEM yang transparan dan demokratis, terutama dalam proses pengambilan keputusan, pelaksanaan program, pengelolaan anggaran, hingga penyampaian pertanggungjawaban kepada mahasiswa.
Kelima, memperluas kolaborasi dan pemberdayaan mahasiswa dengan membangun kerja sama antara BEM, organisasi mahasiswa, unit kegiatan mahasiswa (UKM), program studi, pimpinan universitas, alumni, serta masyarakat.
Keenam, mengembangkan ruang intelektual dan kreativitas mahasiswa melalui forum diskusi, kajian, pelatihan, kompetisi, dan berbagai wadah kreativitas yang dapat meningkatkan produktivitas, inovasi, serta karakter mahasiswa.
Ketujuh, meningkatkan kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan dengan mendorong keterlibatan mahasiswa dalam isu kemanusiaan, kebudayaan, kemasyarakatan, dan lingkungan sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Kedelapan, membentuk mahasiswa sebagai agen perubahan yang tidak hanya menjadi penerima kebijakan kampus, tetapi mampu mengambil peran sebagai subjek yang berpikir, menyampaikan gagasan, bergerak, dan menciptakan perubahan positif.
Vickidolin menutup keterangannya dengan mengajak seluruh mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng agar menggunakan momentum pemilihan BEM dengan bijak dan memilih calon yang tepat.
Kata dia, pesta demokrasi mahasiswa tidak semata-mata tentang menentukan siapa yang akan memimpin, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memilih arah gerakan dan masa depan kehidupan kemahasiswaan di kampus.
"Saya berharap teman-teman mahasiswa untuk tidak sekadar memilih pemimpin, Pilihlah pemimpin dengan melihat rekam jejak, gagasan, visi, serta komitmen membesarkan organisasi,'' tutupnya.
Penulis : (AR)



