Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita


Antara Selebrasi dan Kabut Asap: Di Balik Kemenangan Timnas yang Terasa Berbeda

October 14, 2026 Last Updated 2026-10-14T15:11:43Z

Oleh : Frederikus Anwar Geli
(Mahasiswa Fakultas Hukum,Universitas Merdeka Malang)
Frederikus Anwar Geli(Doc/Pribadi)


Corong Demokrasi - Foto Presiden Prabowo Subianto yang berselebrasi dengan gaya khas tokoh film Ultraman usai kemenangan Timnas Indonesia baru-baru ini langsung menyebar luas di berbagai media. 

Momen itu terasa sederhana, banyak orang tersenyum melihatnya; momen itu terasa menghibur, dan menunjukkan betapa Presiden pun ikut merasakan kebahagiaan rakyat saat Timnas Indonesia berhasil meraih kemenangan.

Tidak ada yang salah dengan kebahagiaan seperti ini, justru hal-hal kecil yang menyatukan kita sebagai bangsa patut dihargai.

Namun, dibalik sorak sorai kebahagian itu, selebrasi kemenangan yang berbeda datang wilayah Kalimantan. Kehidupan warga kini menghadapi kenyataan yang sangat berbeda.

"Langit yang seharusnya cerah kini tertutup kabut tebal asap hasil kebakaran hutan dan lahan yang terjadi lagi tahun ini”.

Seolah apa yang sedang terjadi di negeri ini sungguh menyajikan dua wajah yang kontras.

Tidak ada yang menyangka di momen kebanggaan nasional ini, saudara-saudara kita di Kalimantan justru harus menutup jendela rumah mereka rapat-rapat setiap pagi.

Masalah ini seakan berulang pada musim yang sama. Tidak pernah menemukan penyelesaian yang benar-benar tuntas.

Bagi warga Kalimantan hari ini, membuka mata setiap pagi bukan disambut cahaya matahari, melainkan pandangan yang kabur dan udara yang membuat napas terasa berat.

Anak-anak mereka tetap harus berangkat ke sekolah dengan masker menempel erat di mulut dan hidung. Padahal, udara yang mereka hirup setiap hari seharusnya menjadi hak paling dasar yang layak mereka dapatkan.

Bagi warga di negara yang sama tentu kita ikut bangga dengan kemenangan tim nasional kita baru-baru ini. Namun, mengapa di tengah kebahagiaan itu muncul pula tantangan dari saudara-saudara kita yang tengah menghadapi kabut asap:

“Kapan perhatian yang sama besarnya akan datang kepada mereka?” Mereka tidak meminta perayaan, tidak meminta sorak-sorai, dan tentu tidak menuntut hal-hal yang berlebihan. 

Sungguh sederhana permintaan mereka: agar masalah yang menimpa daerah mereka ini benar-benar ditangani secara serius, tidak hanya saat asap sudah tebal menutup pandangan, tetapi sejak sebelum api berkobar.

“Bagaimana seharusnya kita menyikapi situasi ini?”

Kebakaran hutan dan lahan ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba terjadi tanpa sebab, dan bukan pula sesuatu yang akan hilang dengan sendirinya jika kita hanya menunggu waktu berlalu.

Selama belum ada langkah yang tegas terhadap siapa pun yang bertanggungjawab atas terjadinya pembakaran lahan, atau selama pengelolaan kawasan hutan belum dilakukan dengan tata kelola yang jelas dan adil, serta selama masyarakat di sekitar kawasan hutan belum diberdayakan dengan solusi yang berkelanjutan, maka masalah ini akan terus berulang tahun demi tahun. 

Asap yang melayang di udara saat ini adalah pengingat yang jujur bahwa masih ada pekerjaan besar yang belum selesai dengan baik di rumah kita sendiri.

Semoga semangat yang kita rasakan saat ini bisa menjadi dorongan yang nyata. Bukan hanya untuk mendukung tim kita di lapangan, tetapi juga untuk memastikan bahwa setiap rakyat Indonesia, di mana pun mereka tinggal, berhak menghirup udara yang bersih dan hidup di lingkungan yang aman dan sehat.

Kemenangan yang sejati bukan hanya ketika kita berhasil di lapangan hijau, tetapi ketika kita mampu memastikan bahwa tidak ada satu pun saudara kita yang tertinggal di dalam kabut asap sendirian.


*(VG)


×
Berita Terbaru Update