![]() |
| Foto : Ist. |
Sejumlah massa menggelar aksi unjuk rasa secara tertib di kawasan taman fly over Kota Makassar, Sabtu (16/05/2026).
Disampaikan, Rian, Jenderal Lapangan mengutarakan bahwa Aksi tersebut dinamai Rutinan Kota Makassar yang digelar di setiap hari sabtu.
"Aksi ini rutin kami lakukan di setiap hari sabtu secara rutin dan tertib tanpa mengganggu arus lalu lintas dan tanpa membakar ban," ucapnya.
Terpantau dilokasi, massa secara bergantian menyampaikan aspirasinya sambil membawa beberapa poster bertuliskan tuntutan.
Dalam orasinya, Rian menyampaikan rasa cemas terhadap kinerja rezim Prabowo-Gibran yang saat ini berada pada bayang-bayang otoriter.
"Rezim prabowo-gibran ini membuat kami cemas akan kondisi demokrasi, pendidikan hingga hak asasi manusia," pungkas Rian.
Tambahnya, nobar film dibubarkan, rakyat di teror, keracunan siswa yang diduga efek konsumsi MBG, afiliasi indonesia dengan negara penjajah palestina dan upah pekerja pendidikan.
Aksi tersebut tanpa dikawal oleh aparat kepolisian berbaju dinas. Namun, massa tetap menyampaikan orasinya hingga menjelang magrib
Wandi, koordinator lapangan, sangat kecewa terhadap sikap jajaran Polda Sulsel Polrestabes Makassar.
"Kewajiban menyampaikan surat pemberitahuan aksi di polrestabes makassar telah kami tunaikan namun satu orang oknum polri pun yang berpakaian dinas tidak ada dilokasi mengawal kami," tuturnya.
Lanjut, Wandi, yang kami tau kan jika ada demo biasanya hadir beberapa polisi berpakaian dinas mengawal. Kali ini tidak ada satupun, mungkin mereka libur.
Rian juga menegaskan bahwa ketidakhadiran aparat polri mengawal unjuk rasa tentunya sebagai bentuk nyata polri acuh terhadap keamanan peserta aksi.
"Ini kan seakan-akan polri memberi ruang kepada pihak tertentu yang mempunyai niat menyerang peserta aksi. Kehadiran polri di lokasi aksi itu menandakan upaya pencegahan dini dan pemenuhan hak peserta aksi," tutup Rian.
*(red)



