![]() |
| Foto : Ist. |
Demo tersebut menyikapi mafia BBM bersubsidi di Kabupaten Bantaeng. Namun sikap aparat kepolisian yang berada di lokasi pengamanan terlihat tegak berdiri sebagai penonton saat massa aksi diserang dan diprovokasi oleh oknum preman.
Alif Maulana selaku ketua Cabang Balla' Tujuan HPMB-Raya mengatakan bahwa polisi seakan-akan kehilangan integritas. Di mana janji melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat sesuai amanat Pasal 13 UU No. 2 Tahun 2002 tidak diimplementasikan.
Menurutnya, pembiaran ini bukan sekadar kelalaian prosedur, ini adalah sinyal bahaya bagi demokrasi. Jika aktivis yang menyuarakan kebenaran dibiarkan dikeroyok oleh perpanjangan tangan mafia di depan mata aparat, maka pertanyaan besarnya adalah Siapa yang sebenarnya memegang kendali di negeri ini? Apakah polisi takut pada mafia, atau memang sudah ada kesepakatan yang membuat hukum harus tutup mata?.
"Kami tidak akan mundur. Penyelewengan BBM subsidi adalah kejahatan luar biasa yang memiskinkan rakyat. Jika polisi tetap memilih menjadi satpam bagi kepentingan gelap mafia daripada menjadi penegak hukum yang berintegritas, maka jangan salahkan jika rakyat menyimpulkan bahwa seragam cokelat itu kini telah berganti warna menjadi pelindung para penimbun solar. Olehnya itu kami menuntut Kapolda segera mengevaluasi personel di lapangan yang melakukan pembiaran dan usut tuntas keterlibatan oknum aparat yang diduga membekingi mafia BBM," tegasnya.
"Negara harus membuktikan bahwa hukum masih lebih kuat daripada uang haram hasil selundupan solar. Hukum tidak boleh kalah oleh intimidasi. Polisi tidak boleh diam saat rakyatnya disakiti. Karena diamnya polisi di tengah kekerasan adalah pengkhianatan terhadap konstitusi," tutupnya.
*(red)



