Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita


Ketika Mahasiswa Melupakan Tri Dharma, Kesadaran Sosial Kehilangan Arah

June 09, 2026 Last Updated 2026-06-09T02:22:20Z

Opini Oleh : Bung Vicky 
(Anggota GMNI Cabang Manggararai)
Foto : Ist
Corong Demokrasi - Dalam tradisi akademik, mahasiswa tidak sekadar dipahami sebagai individu yang sedang menempuh pendidikan formal, melainkan sebagai subjek intelektual yang memiliki tanggung jawab etis terhadap kehidupan masyarakat.

Posisi ini memperoleh legitimasi filosofis melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Namun, fenomena yang cukup mengkhawatirkan pada saat ini adalah masih banyak mahasiswa yang belum memahami hakikat Tri Dharma secara mendalam. Akibatnya, respons mereka terhadap berbagai isu sosial sering kali kehilangan dimensi kritis, ilmiah, dan transformatif.

Secara filosofis, pendidikan tinggi tidak hanya bertujuan menghasilkan manusia yang mengetahui (knowing), tetapi juga manusia yang mampu memahami (understanding) dan bertindak (acting).

Dalam perspektif Paulo Freire, pendidikan harus melahirkan kesadaran kritis (critical consciousness) yang memungkinkan seseorang membaca realitas secara reflektif dan berpartisipasi dalam transformasi sosial.

Kesadaran semacam ini tidak dapat tumbuh apabila mahasiswa memandang pendidikan semata-mata sebagai proses memperoleh ijazah atau modal ekonomi. Ketika Tri Dharma diimplementasikan hanya pada aktivitas perkuliahan, maka fungsi sosial pendidikan tinggi menjadi kehilangan maknanya.

Fenomena ini tampak dalam cara sebagian mahasiswa menanggapi berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat. Isu kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, maupun konflik sosial sering kali hanya dijadikan bahan diskusi sesaat atau komentar di media sosial.

Respons yang diberikan cenderung bersifat opini personal yang minim argumentasi akademik dan tidak didasarkan pada penelitian yang memadai. Dalam konteks ini, mahasiswa gagal menempatkan dirinya sebagai Agent of change dan Agent of social yang seharusnya menjadikan realitas sosial sebagai objek refleksi ilmiah.

Dari sudut pandang epistemologis, penelitian merupakan instrumen penting untuk memperoleh pengetahuan yang valid mengenai suatu persoalan. Tanpa tradisi penelitian, mahasiswa mudah terjebak pada prasangka, asumsi, dan informasi yang belum terverifikasi.

Sementara itu, pengabdian kepada masyarakat berfungsi sebagai ruang praksis yang memungkinkan ilmu pengetahuan berjumpa dengan realitas konkret kehidupan manusia. Ketika kedua dimensi ini diabaikan, pendidikan tinggi berisiko melahirkan intelektual yang kaya teori tetapi miskin kepekaan sosial.

Lebih jauh, pemikiran Aristoteles mengenai manusia sebagai zoon politikon menegaskan bahwa manusia mencapai aktualisasi dirinya melalui keterlibatan dalam kehidupan bersama. Dengan demikian, mahasiswa yang mengabaikan Tri Dharma sesungguhnya sedang menjauhkan dirinya dari hakikat keberadaan intelektual itu sendiri.

Ia mungkin berhasil secara akademik, tetapi belum tentu memiliki kesadaran moral dan sosial yang menjadi tujuan utama pendidikan.Oleh karena itu, misunderstanding mahasiswa terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi bukan sekadar persoalan administratif atau akademik, melainkan persoalan filosofis mengenai orientasi pendidikan itu sendiri.

Perguruan tinggi harus menjadi ruang pembentukan manusia yang mampu mengintegrasikan pengetahuan, penelitian, dan pengabdian dalam satu kesatuan praksis kehidupan. Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang mahasiswa tidak hanya terletak pada prestasi akademiknya, tetapi juga pada kemampuannya menggunakan ilmu pengetahuan untuk memahami, mengkritisi, dan memperbaiki realitas sosial di sekitarnya. 

Dengan kata lain, mahasiswa yang melupakan Tri Dharma berisiko kehilangan identitasnya sebagai intelektual yang bertanggung jawab terhadap masyarakat dan kemanusiaan. **


(AR) 


×
Berita Terbaru Update